Minggu, 29 Agustus 2010

Alat reprduksi pria

Organ gonad pria adalah sepasang buah pelir atau testikel (testicles) yang terletak di dalam kantung kulit yang disebut scrotum. Testikel berada di dalam ruang abdomen (dekat ginjal), kemudian turun ke dalam kantung scrotum (scrotum pouch), menjelang lahirnya bayi laki-laki. Apabila testikel tidak turun maka apabila seseorang menginjak dewasa, tidak akan menghasilkan sel-sel spermatozoa yang normal, bahkan akan mati. Hal ini karena spermatozoa memerlukan suhu lingkungan yang lebih rendah (0,5 – 4,5ÂșC lebih dingin daripada suhu di dalam rongga abdomen). Spermatozoa tidak tahan di dalam ruangan dengan temperature tinggi. Sebaliknya spermatozoa akan tetap hidup dalam tepmeratur yang sangat rendah. Atas dasar pengetahuan ini, spermatozoa dapat disimpan dalam tabung dengan temperature tertentu dengan jangka waktu cukup lama, bahkan sampai bertahun-tahun.
Jaringan ikat yang dilewati testikel pada saat turun ke dalam kantung scrotum, kadang-kadang menunjukkan keadaan yang lemah sehingga mudah tekoyak ketika posisi seseorang meregang, misalnya pada saat mengangkat barang yang berat. Akibat dari terkoyaknya jaringan ikat ini, kadang-kadang dapat mengakibatkan masuknya bagian usus atau jaringan lain ke dalamnya. Peristiwa inilah yang disebut hernia-inguinalis.

Pembetukan sperma

Testikel mempunya dua fungsi utama
1. Menghasilkan sel-sel spermatozoa yang terjadi dalam tubula seminiferus.
2. Menghasilkan hormone seksual, yaitu testoteron yang terjadi di dalam sel-sel interstitial.

Produksi spermatozoa dan hormone seksual dimulai ketika seorang pria mulai dewasa. Pria dewasa yang sehat akan menghasilkan 300-500 juta spermatozoa setiap harinya.
Apabila terjadi suatu peristiwa yang menyebabkan kedua testikel tidak dapat turun ke dalam kantung scrotum dan tetap berada di dalam rongga abdomen pria maka akan mengakibatkan kemandulan. Keadaan demikian disebut cryptorchidism. Adakalanya hanya satu testikelsaja yang turun ke dalam kantung scrtoum dan yang lain tetap berada di dalam rongga abdomen. Keadaan ini disebut monorchidism.
Masing-masing testikel mengandung sekitar 800 tubula seminiferus. Apabila tubula seminiferus ini dibentangkan, panjangnya dapat mencapai 800 m. Spermatongia adalah cikal bakal terbentuknya sperma dengan cara mitosis (pembelahan sel). Beberapa sel spermatongia akan membesar dan melanjutkan proses meiosisnya (pembelahan menjadi dua sel), kemudian mengalami perubahan-perubahan tertentu sebelum menjadi sel sperma.
Spermatozoa merupakan sel yang kecil sehingga tidak tampak oleh mata tanpa bantuan mikroskop. Apabila mencapai 100.000 sel spermatozoa dan membentuk suatu koloni, barulah manusia dapat melihatnya tanpa menggunakan mikroskop.
Pada umumnya, bagian kepala sel sperma leibh kecil dibandingkan dengan inti sel (nucleus). Ketika sel sperma masak, sebagian besar sitoplasma akan hilang. Sel sperma yang telah masak akan melewati tubula seminiferus menuju tempat penampungannya yang disebut epididimis (epididymis).
Di dalam epididimis ini, sel sperma dimurnikan/dibersihkan dari cairan dan sisa-sisa sel lainnya. Epididimis merupakan gulungan saluran yang panjang dan bergulung-gulung. Apabila panjang epididimis ini dibentangkan dapat mencapai enam meter. Di dalam epididimis sel sperma disimpan selama satu bulan. Jumlah sel sperma yang berlebihan atau tidak dipakai akan dihancurkan, sedangkan bahan kimianya akan didaur ulang.

Kelenjar penghasil sperma

Dari tempat penyimpanan (epididimis), sperma keluar melalui vas deferens. Pada sambungan vas deferens dan salurang kencing yang disebut urethra, terdapat kelenjar-kelenjar. Kelenjar-kelenjar ini menghasilkan cairan sperma (semen). Kelenjar prostate (prostate gland) seringkali membesar ketika usia seorang pria makin tua. Kelenjar prostate juga seringkali menjadi tempat tumbuhnya kanker. Apabila kelenjar prostate membengkak, kadang-kadang akan menekan saluran kencing (urethra) sehingga dapat menyebabkan gangguan pada proses pembuangan air seni. Akibatnya, kelenjar prostate harus diangkat dengan cara operasi.
Apabila penimbunan air seni terjadi maka kandung kemih (bladder) dapa pecah dan terjadi infeksi. Selanjutnya, kejadian seperti ini dapat merusak organ ginjal beserta saluran ureternya, yaitu saluran yang mengalirkan air seni dari ginjal ke kandung kemih.
Cairan sperma merupakan cairan yang susunannya kompleks karena mempunya beberapa fungsi penting. Cairan sperma mengandung zat nutrisi, terutama gula fruktosa (sugar fructose) sebagai sumber energi (sel pada umumnya menggunakan energi berasal dari metabolisme glukosa). Cairan sperma bersifat sedikit basa (alkalin), untuk melindungi diri apabila berada dalam vagina. Hal ini disebabkan cairan dalam vagina bersifat asam. Cairan sperma berfungsi juga sebagai pengantar sel sperma dan memperlicin saluran kemih.

Jumlah sel sperma

Pada saat ejakulasi, pria dewasa dapat mengeluarkan cairan sperma sebanyak 3-4 ml, yang mengandung sekitar 300-500 juta sel sperma. Pada pria dewasa muda dan sehat, jumlah sperma yang diejakulasikan akan diganti dengan yang baru hanya dalam beberapa hari saja. Jika tidak tejadi ejakulasi, cairan sperma tersebut akan diserap kembali oleh tubuh untuk didaur ulang. Seorang pria yang cairan spermanya hanya mengandung sel sperma antara 30-50 juta pada setiap ejakulasi, biasanya menjadi pria mandul karena sekitar 25% sel sperma tidak normal.

Penis
Ukuran penis seringkali dianggap mempunyai hubungan langsung dalam kemampuan seorang pria memuaskan pasangannya ketiak melakukan coitus. Anggapan seperti itu tidak benar. Ukuran penis dalam keadaan tidak berereksi, tidak mempunyai korelasi dengan ukuran penis pada saat berereksi. Penis yang ukurannya kecil dalam keadaan tidak berereksi, dapat menjadi cukup besar ketika sedang berereksi. Dalam keadaan terangsang karena birahi, pembuluh darah di dalam penis akan mengembang (dilatasi), yang kemudian diisi oleh darah. Darah ini kemudian akan mengisi jaringan yang bersifat seperti spons, disebut jaringan cavernosus. Oleh karena itu, tekandna darah di dalam batang penis akan meningkat sehingga menutup pembuluh darah vena. Akhirnya, darah akan tertahan di dalam jaringan cavernosus, mengakibatkan penis berdiri kencang dank eras sehingga mampu melakukan penetrasi ke dalam vagina ketika melakukan kegiatan coitus. Penis yang ukurannya kecil, tidak berarti mengurangi kejantanan seorang pria atau mengurangi daya fertilitasnya.
Rata-rata ukuran panjang penis pria dewasa adalah adantara 12-18 cm. Penis dalam keadaan berereksi, tidak slalu terjadi oleh adanya rangsangan seksual saja. Hal ini dapat dibuktikan pada bayi laki-laki atau pria dewasa dalam keadaan tidur, penisnya dapat berereksi.
Apabila penis mendapat rangsangan berupa gesekan (friction), baik ketika melakukan coitus ata masturbasi maka akan terjadi reaksi refleks yang mendorong terjadinya ejakulasi. Fenomena ejakulasi bagi pria merupakan stadium orgamus. Ejakulasi dan orgamus ini merupakan gerakan bergelombang (peristaltic) otot-otot polos (smooth muscles) dari epdidimis, vas deferen, vesica seminalis dan kelenjar prostate yang menyebabkan cairan sperma memancar keluar.
Keluarnya cairan sperma ini terjadi pada saat pintu dari urethra yang berhubungan dengan kandung kencing tertutup karena adanya otot melingkar (sphincter muscles). Dengan demikian, meskipun urethra adalah saluran bagi keluarnya cairan sperma dan air seni, keluarnya kedua macammateri ini tidak pernah bercampur atau bersamaan.
Sel-sel sperma yang telah diejakulasikan, pada walnya bersifat inaktif karena dilindungi oleh cairan seminal yang kental, seperti lendir. Cairan pelindung ini kemudian menipis sehingga sel sperma mulai aktif dan bergerak maju dengna kecepatan 1-3 mm setiap menitnya. Di dalam vagina, sel sperma akan bergerak lebih lambat karena lingkungannya (millieunya) bersifat asam, sedangkan cairan sperma sendiri bersifat basa. Di dalam uterus dan tuba fallopian sifat asam berkurang sehingga sel spermatozoa akan bergerak maju lebih cepat lagi. Adanya kontraksi yang teratur oleh otot-otot di dalam uterus (endometrium) akan lebih mempermudah, bahkan mendorong gerakan sel sperma lebih aktif. Pada umumnya, bertemunya sel sperma dengan sel telur (Ovum) akan terjadi pada posisi 1/3 (sepertiga) bagian atas dari tuba fallopian.
Pergerakan sel sperma di dalam vagina akan bertahan selama dua jam. Suatu teknik kontrasepsi, dengan cara menutup leher rahim (cervix uteri) dapat mengakibatkan sel-selp sperma mati di dalam vagina. Hal ini terjadi karena sel sperma tidak dapat masuk ke cervix uteri, bahkan ke dalam uterus. Sel sperma yang masuk ke dalam uterus melewati leher rahim, dapat bertahan sekitar 2-5 hari. Akan tetapi setelah diejakulasi, kemampuan sel sperma dalam uterus untuk membuahi sel telur hanya 24-36 jam.
Kulu kepala penis yang disebut preputium dapat mengalami penyempitan. Akibatnya, kepala penis (glans penis) tidak dapat keluar. Keadaan seperti itu disebut phymosis. Oleh karena itu, biasanya orang melakukan sunat (sirkumsisi) dan dilakukan pada sat pria masih anak-anak. Para ahli kesehatan berpendapat bahwa sirkumsisi baik dilakukan untuk menghindari terjadinya iritasi atau infeksi karena di dalam preputium, kemungkinan besar dapat terjadinya timbunan kotoran, kumpulan lendir, sel-sel mati, sisa cairan sperma, dan mikroorganisma.